Kalimat toyyibah, seperti Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar, dan Astaghfirullah haladzim, merupakan kalimat toyyibah yang cenderung lebih sering kita ucapkan daripada kalimat toyyibah yang lain. Bahkan dalam sehari kita bisa berulang-ulang melafadkannya, sehingga anakpun juga lebih banyak mendengar kalimat itu. Yang pada akhirnya membuat anak-anak hafal dengan sendirinya. Misalnya kalimat Alhamdulillah. Kita mengajarkan kepada anak-anak untuk bersyukur ataupun berterima kasih dengan mengucapkan Alhamdulillah. Dimulai dari ketika bangun tidur, sehabis mandi, setelah makan, sampai saat kita akan tidur kembali, kalimat Alhamdulillah berulang kali diucapkan. Sehingga dalam sehari, mungkin tidak terhitung kita mengucapkan Alhamdulillah. Bahkan karena seringnya mendengar kalimat itu, kalau kita baru mengatakan Alhamdu… saja, maka anak-anak langsung spontan dapat meneruskan “Lillah…”
Begitu pula dengan kalimat Subhanallah. Kalau melihat sesuatu yang indah, misalnya pelangi ciptaan Allah, maka kita pun telah mengajarkan kepada anak untuk mengucap Subhanallah. Belum lagi dalam dzikir kita setelah sholat, kalimat Subhanallah kita ulang-ulang sampai 33 kali.
Demikian juga dengan kalimat Allahu Akbar. Kumandang adzan setiap hari menyerukan kalimat Allahu Akbar, minimal terdengar 20 kali dalam sehari, itupun baru dari satu masjid. Bahkan ada seorang anak berusia 2 tahun sudah bisa mengucapkannya, meskipun kadang masih belum jelas. Terutama pada saat hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha, gema kumandang takbir terdengar dimana-mana.
Tidak kalah seringnya dengan kalimat Astaghfirullah hal adzim. Anak-anak sudah tahu bahwa kalimat untuk meminta maaf kepada Allah adalah dengan mengucapkan Astaghfirullah hal adzim. Dan kita sering mengajaknya untuk melafadzkan kalimat tersebut sehabis sholat. Termasuk misalnya ketika anak sedikit ‘bandel’ maka mulut kita mengucapkan kalimat itu, sehingga anak pun mendengarnya kembali.
Nah, aku punya pengalaman ketika mengenalkan kalimat ini kepada anak-anakku. Secara tidak terduga, kalimat itu terucap secara berulang-ulang, hampir setiap tiga hari sekali, dalam waktu kurang lebih satu setengah bulan. Sampai akhirnya anakku hafal melafalkan kalimat Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun.
Ceritanya, begini. Sore itu, kak Dwi panggilannya, membelikan anak-anakku satu perangkat akuarium, lengkap dengan beberapa ekor ikan hias berwarna-warni dari berbagai jenis, beserta kelengkapannya berupa jaring dan alat gelembung udaranya. Terima kasih ya buat kak Dwi atas hadiah itu, semoga menjadi pahala yang mengalir, ya kak. Amin.
Sampai di rumah, ternyata akuarium beserta ikan-ikannya yang cantik itu menjadi hadiah surprise bagi Faiz dan Arvin, karena memang anak-anakku tidak pernah punya sebelumnya. Akuarium seisinya itu benar-benar menjadi pusat perhatian (center interest) buat mereka. Begitu menariknya ikan-ikan itu, seakan-akan ikan-ikan itu menjadi teman barunya yang setiap saat dikunjunginya di sela-sela waktu bermainnya. Terkadang ikan-ikan itu diajaknya berbincang-bincang.
“Kamu sedang ‘terbang’, ya ikan,” kata Arvin di depan akuarium, yang mengistilahkan berenang dengan terbang.
Tidak jarang Faiz dan Arvin saling berebut memberi makan ikan.
Sambil memandang ikan-ikan itu berenang, dia mengatakan, “Selamat makan, ikan,” kata Arvin menirukan gayaku seperti ketika aku mempersilakan Arvin makan.
Sementara itu, buat Faiz, mungkin karena begitu cintanya pada ikan, Faiz rela untuk memindah televisi yang ada di atas meja, untuk digantikan oleh akuarium ikan.
“Nggak pa pa bun, mejanya untuk akuarium saja. Televisinya nggak usah dinyalakan, biar aku rajin belajar,” kata Faiz layaknya orang dewasa yang menyadari terganggu oleh acara televisi.
Memang sebelumnya aku sempat resah oleh tayangan televisi yang ditontonnya setiap hari. Bagaimana tidak, dari bangun pagi jam setengah enam sampai jam delapan malam menjelang mereka tidur, film anak-anak dan tayangan lain yang digemarinya ada di televisi, tersaji tanpa henti. Ketika itu, hampir setiap hari Faiz makan pagi sambil menonton televisi. Pulang sekolah, melihat televisi lagi. Ditambah sore hingga malam hari masih juga di depan televisi. Televisi hanya berhenti ketika dia sedang ke masjid atau bermain. Itupun terkadang dia melarangku untuk mematikannya.
“Di mute aja bunda,” begitu katanya.
Ya Alhamdulillah sekarang televisi itu sudah tidak menjadi bagian utama dalam hidupnya. Sejak itu anakku bermain sewajarnya anak-anak bermain, tidak dikendalikan lagi oleh tayangan televisi yang cukup memikat itu. Ya bermain apa saja. Dari menggambar, bermain layang-layang, puzzle, bongkar pasang lazy, dan termasuk ‘memelihara’ ikan di akuarium.
Ikan-ikan itu diberi nama.
Memang mereka rajin memberi makan, tetapi Faiz dan Arvin juga senang menjaring ikan-ikan itu, selayaknya penjual ikan, ya meskipun nanti dikembalikan lagi ke akuarium.
“Bunda beli ikan, ya. Aku jualan ikan,” kata Faiz menawarkan ikannya.
Lalu dia mengambil kantong plastik, mengisinya dengan air, dan menjaring 2 ekor ikan untuk diberikan kepadaku. Setelah itu ya dikembalikan lagi ke akuarium. Aku pikir, aduh apa ikannya nggak pusing tuh.
Suatu ketika si mentik terlihat sakit. Tidak banyak bergerak. Bahkan ikan yang lain mulai menggigiti perut, ekor, dan mata si mentik. Di bagian perutnya terlihat bercak merah. Begitu juga dengan matanya yang terlihat bengkak, mungkin terluka akibat gigitan oleh ikan yang lain. Melihat kondisi si mentik yang demikian parah, akhirnya dengan kesepakatan Faiz, aku memindahnya ke toples tersendiri, maksudku supaya tidak digigit oleh ikan yang lain lagi. Kami mengamati perkembangannya. Si mentik makin lemah dan tak berdaya. Beberapa jam kemudian, akhirnya si mentik mati juga. Aku melihat Faiz, dia hanya terdiam, tertunduk.
“Waduh bun, si mentik mati,” kata Faiz berulang kali.
“Kasihan ya bun,” tambahnya.
Faiz memandangku. Aku melihat matanya berkaca-kaca.
“Apa kakak sedih?” tanyaku.
Faiz hanya mengangguk.
“Bunda?” segera dia balas bertanya kepadaku.
“Iya, bunda juga sedih,” jawabku.
“Apa kak Faiz mau menangis?” tanyaku ingin mengungkap isi hatinya.
“Bunda?” dia justru balik bertanya.
Rupanya perasaan kami sama, sedih kehilangan si mentik yang lucu. Aku turut bersedih, karena selama ini si mentik telah membuat anak-anakku ceria. Pada waktu itu aku sendiri merasa seperti baru saja menunggui ikan yang sedang menghadapi sakharatul maut.
Tetapi momen matinya si mentik ini menggugah pikiranku. Aku memanfaatkan peristiwa tersebut untuk mengenalkan kepada anak-anakku kalimat Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun.
“Kak, kalau kita sedang ditimpa musibah, Allah mengajarkan kepada kita untuk mengucapkan kalimat Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun,” kataku mengawali.
“Termasuk ketika si mentik mati. Kita juga mengucapkan Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun,” kataku memperjelas.
“Maksudnya, segala sesuatu itu milik Allah, dan akan kembali kepada Allah. Jadi sesungguhnya apa yang kita miliki ini sebenarnya milik Allah. Dan kita akan mengembalikannya kepada Allah lagi,” demikian aku menerangkan kepadanya.
Awalnya kalimat itu memang agak sulit diucapkan karena seperti ada pengulangan.
Lafal Faiz begini sebelumnya,“Innalillahi Wa Innalillahi Roojiun.”
Kemudian aku memberitahu yang benar, dengan cara mengikuti ucapanku.
Ternyata, hari demi hari ikan itu bergantian mati. Setiap ada ikan yang mati, aku selalu mengajak Faiz dan Arvin untuk mengucapkan kalimat Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun. Mungkin, karena seringnya ikan itu mati satu per satu, dan tiap kali ada ikan yang mati selalu mengucapkan kalimat toyyibah itu, maka menyebabkan Faiz dapat melafalkan kalimat toyyibah itu secara benar dan hafal dengan sendirinya.
Sampai akhirnya, kalau ada ikan yang mati lagi, Faiz tinggal lapor saja, “Bunda, tadi ada ikan yang mati. Aku sudah Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun, lho bun,” demikian katanya.
Aku menyadari, betapa karunia Allah itu sungguh amat besar. Karena dari sinilah akhirnya aku mendapatkan hikmah dari ikan-ikan yang mati itu. Hikmahnya adalah hanya dengan seperangkat akuarium beserta ikan-ikan di dalamnya, ternyata Allah berkenan mengajarkan kepada anak-anakku tentang kalimat toyyibah, Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah. (Bunda Achiria)
Jogja, Rabu 9 Juli 2008, pukul 02.00 WIB.

1 komentar:
senang membacanya sampai kalimat terakhir.
contoh cara pengajaran yang baik.
Lucu membayangkan wajah faiz..
:D
semoga faiz menjadi anak yang shaleh, yang selalu mengalirkan kebaikan kepada kedua orangtuanya.
amin...
Posting Komentar