“Aku dulu bunda!” teriak Arvin.
Begitu juga kakaknya, “Aku dulu bunda!”.
“Ya, Arvin dulu, ya,” sahutku.
Belum sempat aku memberi pertanyaan, Arvin sudah menyahut lagi, “Binatang bunda!”
Ya, aku tahu maksudnya, dia maunya ditanyaain seputar binatang. Tentu saja binatang yang sudah dikenalnya.
“Pertanyaan buat Arvin, binatang apa yang ada di rumah kita, kecil, warnanya hitam, kalau mencari makan saling bekerjasama, dan suka makanan manis?” tanyaku penuh semangat.
“Semut!” jawab Arvin mantap.
“Ya betul!” sahutku pula.
Lalu kami bertiga tepuk tangan memberi penghargaan untuk Arvin yang sudah benar menjawab pertanyaan.
“Sekarang kak Faiz,” kataku kemudian.
“Apa bunda?” tantangnya menunggu pertanyaanku.
“Binatang apa yang menjadi pembunuh nomor satu, hidupnya di air, dan …?”, belum selesai aku memberi pertanyaan, dia sudah menjawab.
“Ikan hiu putih!” jawabnya sambil berteriak.
“Ya betul!” jawabku sambil memberikan applaus juga untuk Faiz.
Yah, Faiz bisa menjawab pertanyaan itu karena memang dia suka membaca buku tentang alam dan binatang yang pernah aku belikan di toko buku shopping Jogja.
“Sekarang Arvin bunda!” seru Arvin segera.
“Ya, pertanyaan untuk Arvin.” sambutku.
“Benda apa yang terbit dari sebelah timur, tenggelam di sebelah barat, benda itu menyinari bumi setiap hari?” tanyaku sambil memeluk dan menciumi tubuhnya yang berbaring di sebelah kiriku.
“Emm, matahari!” jawabnya santai dengan mata tertuju ke kakinya karena ia sedang mengangkat kedua kakinya di atas dinding di sebelah kirinya.
“Ya, benar!” jawabku.
“Sekarang kak Faiz, bun,” kata Arvin.
“Ya, pertanyaan untuk kakak,” sambil aku berpikir pertanyaan apa lagi ya.
“Kak, berapa
Dia berpikir sejenak, “Ng, gampang bunda, sepuluh,
Tebak-tebakan itu masih berlanjut dengan beberapa pertanyaan. Topik pertanyaan yang aku ajukan bisa bervariasi. Dari pengetahuan tentang alam, binatang, benda, perilaku, sopan santun, hitungan, sampai dengan hafalan surat-surat pendek ataupun doa sehari-hari. Aku menyadari, saat-saat seperti itu memang sangat berharga bagi kami.
“Ayo, sekarang Arvin,” kataku melanjutkan memberi pertanyaan.
“Bagaimana doa mau tidur?” tanyaku sambil tersenyum melihat dia menunggu pertanyaanku.
Arvin menjawab, “Allaahuma baariklana fiimarozaktana waqina adzaabannar,” jawabnya dengan artikulasi lafalnya yang belum jelas tapi terdengar lucu menggemaskan.
Kakaknya yang juga ikut menyimak pertanyaanku, mendengar jawaban Arvin yang keliru, melihat ke wajahku sambil membulatkan matanya dan tersenyum, seolah mengatakan, lho
Aku segera merespon, “Vin, itu doa mau makan, sayang, kalau doa mau tidur gimana?”
Lantas aku dan Faiz spontan bersama-sama membantu menjawab, “Bismika allaahuma ahya wa bismika amut.”
Arvin pun akhirnya ingat juga dan menyahut ikut melafalkannya dengan suara agak berteriak.
“Sekarang aku, bun,” pinta Faiz yang tidak sabar untuk aku tebakin.
“Baik, pertanyaan untuk kak Faiz, berapa duapuluh ditambah tigapuluh?” tanyaku.
“Gak mau bun, aku capek berhitung,” katanya.
Hehe…dia mulai malas menghitung. Kalau Faiz sudah seperti itu, aku nggak maksain nerusin pertanyaan yang hitungan. Memang pertanyaan berhitung butuh kemauan untuk berpikir sejenak. Dia sedang lebih suka dikasih tebakan lain yang bersifat pengetahuan, baik itu logika, alam, binatang atau benda-benda tertentu. Permainan tebak-tebakan itu tidak akan berakhir sampai mereka bosan atau kami sudah makin mengantuk.
“Pertanyaan untuk Arvin, Vin apa yang kita lakukan kalau kita mengantuk?” tanyaku mulai mengarahkan mereka untuk tidur.
“Tidur!” jawab Faiz dan Arvin kompak.
“Ya sudah, sekarang tidur ya, dah malam,” kataku.
“Berdoa yuk, Allahummaghfirli waliwaalidayya warhamhuma kamaa robbaya ni shoghiiro. Bismika allaahuma ahya wa bismika amut,” kami berdoa bersama.
Setelah itu mereka pun ambil posisi tidur masing-masing dengan bantalnya ataupun gulingnya. Tidak lupa mereka meletakkan mainannya di atas kepalanya untuk segera aku singkirkan ke meja.
Aku membalik tubuhku ke sebelah kanan, lalu mencium pipi Faiz sambil mengatakan, “Met tidur, sayang. Jadi anak sholeh, ya kak.”
Lalu akupun berganti memeluk dan mencium Arvin di sebelah kiriku yang sudah memejamkan mata, “Met tidur, sayang. Jadi anak sholeh ya, Vin.”
Alhamdulillah, aku bersyukur, masih sempat bercanda dengan anak-anakku meski hanya beberapa menit sebelum mereka tidur. Akupun merapatkan selimut dan tidur. (Bunda Achiria)
Jogja, Ahad 6 Juli 2008, pukul 03.12 WIB.

0 komentar:
Poskan Komentar