Jumat, 25 Juli 2008

Sujud Syukur

“Aku sujud syukur dulu ya bunda,” kata Faiz.

Dia segera berlari menuju sajadah yang sudah terjulur di tempat sholat. Dalam posisi sujud itu, Faiz mengucapkan sesuatu yang lumayan panjang. Seolah dia sedang bercakap dengan Allah selayaknya berbincang dengan orang tuanya. Begitulah anakku kalau diberi sesuatu oleh siapa saja. Entah itu berupa baju, buku, ikan, uang, makanan, atau apapun juga.

Pernah suatu ketika aku akan membelikan krayon untuk sarana belajar mewarnainya. Dia memang tidak minta, karena merasa krayon warnanya masih ada, meskipun jumlahnya sudah tidak selengkap ketika baru. Lagian krayon itu kondisinya sudah pendek-pendek semua. Ada yang panjangnya cuma sekuku ibu jari. Itupun masih dipelihara. Sementara aku tahu kalau Faiz itu memang hobi mewarnai. Jadi wajarlah kalau krayonnya cepat habis.

Waktu itu, sepulang dari kantor, sengaja aku langsung menuju ke toko buku. Aku mencari krayon yang belum dimiliki Faiz sebelumnya. Aku memilih yang ukurannya lebih besar, karena jumlahnya lebih banyak, dengan tambahan warna yang makin beragam. Setelah itu aku melihat krayon yang lain, untuk Arvin, anakku yang kedua, dengan ukuran yang lebih kecil, karena jumlahnya sedikit. Aku memperhatikan sekali lagi krayon-krayon pilihanku itu. Yang pertama, satu set krayon ukuran besar, dan yang kedua satu set krayon ukuran kecil. Aku mantap. Lalu aku menanyakan harga dua set krayon itu kepada penjaga toko.

“Mbak, dua krayon ini berapa?” tanyaku kepada penjaga toko.

“Kalau dua, jadinya enampuluh lima ribu tujuh ratus,” kata mbaknya setelah menghitung semuanya.

Ah, oke, cukuplah uangku, kataku dalam hati.

“Ya mbak, beli dua-duanya, ya,” kataku memutuskan untuk membeli krayon itu.

Penjaga toko itupun mencatat barang yang aku beli.

“Ini bu, notanya,” kata penjaga toko itu sambil menyerahkan nota pembelianku.

“O iya, mbak, terima kasih,” jawabku.

Aku bergegas menuju kassa, membayarnya, dan kemudian mengambil krayon itu di tempat pengambilan barang. Setelah itu aku pun pulang.

Sampai di rumah, seperti biasa aku disambut oleh teriakan anak-anakku, “Bunda datang!, bunda datang!”

Faiz dan Arvin berlari untuk berebut memelukku. Aku duduk bersimpuh agar Arvin, anakku yang masih 2,5 tahun itu tidak hanya dapat meraih pinggangku, tapi bisa juga sampai memeluk dadaku juga seperti Faiz.

Aku pun segera berkata, “Bunda bawa sesuatu untuk kalian berdua!” kataku penuh semangat.

“Asyik, asyik!” sorak mereka berdua.

“Apa bunda?, apa bunda?” tanya mereka gak sabar.

“Sebentar,” kataku sambil membuka tas pembungkus itu.

“Ini dia! Krayon untuk kakak dan Arvin!” kataku sambil menyerahkan krayon yang ukuran besar untuk Faiz, dan krayon ukuran kecil untuk Arvin.

“Hore…!” sambutnya sambil meloncat-loncat memegang krayon masing-masing.

Akupun segera mengajak mereka berucap,“Alhamdu…”

”Lillaah,” sahut mereka.

Tiba-tiba Faiz berkata, “Vin, sujud syukur dulu yuk,” ajak Faiz kepada Arvin.

Mereka pun berlari ke tempat sholat yang biasa mereka gunakan untuk sujud syukur juga. Aku segera mengikuti mereka berdua, bersungkur sujud di sajadah yang ada. Aku sengaja merapatkan telingaku mendekat ke Faiz. Terus terang saja, aku ingin mendengar apa yang diucapkan Faiz ketika dia sujud syukur seperti itu. Aku memang mengajarkan kepada anak-anakku untuk selalu berterimakasih kepada Allah dengan cara sujud syukur. Tetapi aku tidak mendikti Faiz harus mengucapkan kalimat begini begitu. Intinya aku hanya menanamkan bahwa kita telah diberi rizki oleh Allah, dan kita harus berterima kasih kepada Allah atas pemberianNya itu. Ya, itu saja. Masalah kalimatnya, aku serahkan ke anak-anakku, karena aku menganggap kata-kata mereka lebih murni dan apa adanya. Toh, Allah itu Maha Mengerti, pikirku. Atau bahkan Allah justru akan tersenyum mendengar ucapan anak-anakku yang polos itu.

Dalam posisi bersujud pula, lirih aku mendengar ucapan Faiz yang lancar tanpa berjeda itu,”Ya Allah, terima kasih sudah memberi rizki untuk bundaku. Bundaku jadi bisa membelikan aku krayon baru. Soalnya krayonku sudah putus-putus. Sekarang aku sudah punya krayon baru. Semogalah bundaku punya uang lagi untuk mbeli-mbeliin aku lagi.”

Ya Allah! seruku dalam hati. Seketika itu juga hatiku menangis, dan tanpa aku sadari, air mataku pun menetes membasahi pipi. Tidak berlebihan rasanya kalau aku merasa terlambat. Terlambat untuk merespon kebutuhan anakku yang hanya berupa krayon. Betapa pentingnya krayon itu untuknya. Memang, krayon itu selalu dibawa setiap kali Faiz pergi ke sekolah, karena digunakan untuk mewarnai gambar-gambar yang diberikan oleh bu guru di sekolah taman kanak-kanaknya. Jadi wajar saja kalau krayon baru itu sangat berharga untuknya.

Akhirnya, tanpa sepengetahuan mereka berdua, akupun tersungkur kembali untuk melakukan sujud syukur, berterima kasih kepada Allah karena aku telah dianugerahi dua orang anak yang dapat membukakan pintu hatiku untuk selalu mensyukuri nikmatMu. (Bunda Achiria)

Jogja, Ahad, 6 Juli 2008, pukul 15.15 WIB.

0 komentar: