<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3418794960202668817</id><updated>2011-04-21T15:39:30.182-07:00</updated><title type='text'>Jogja Islamic Parenting</title><subtitle type='html'>Tips parenting mudah &amp;amp; menyenangkan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jogjaparenting.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3418794960202668817/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jogjaparenting.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Jogja Islamic Parenting</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12534910791686287909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://bp0.blogger.com/_l7Gsi8kWhZ0/SIoEDTRbsgI/AAAAAAAAAAM/amHSZSiPWHA/S220/F%26A+dekat.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3418794960202668817.post-2565862475164720530</id><published>2008-07-25T20:39:00.001-07:00</published><updated>2008-07-26T23:23:54.431-07:00</updated><title type='text'>Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kalimat toyyibah, seperti Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar, dan Astaghfirullah haladzim, merupakan kalimat toyyibah yang cenderung lebih sering kita ucapkan daripada kalimat toyyibah yang lain. Bahkan dalam sehari kita bisa berulang-ulang melafadkannya, sehingga anakpun juga lebih banyak mendengar kalimat itu. Yang pada akhirnya membuat anak-anak hafal dengan sendirinya. Misalnya kalimat Alhamdulillah. Kita mengajarkan kepada anak-anak untuk bersyukur ataupun berterima kasih dengan mengucapkan Alhamdulillah. Dimulai dari ketika bangun tidur, sehabis mandi, setelah makan, sampai saat kita akan tidur kembali, kalimat Alhamdulillah berulang kali diucapkan. Sehingga dalam sehari, mungkin tidak terhitung kita mengucapkan Alhamdulillah. Bahkan karena seringnya mendengar kalimat itu, kalau kita baru mengatakan Alhamdu… saja, maka anak-anak langsung spontan dapat meneruskan “Lillah…” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Begitu pula dengan kalimat Subhanallah. Kalau melihat sesuatu yang indah, misalnya pelangi ciptaan Allah, maka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita pun telah mengajarkan kepada anak untuk mengucap Subhanallah. Belum lagi dalam dzikir kita setelah sholat, kalimat Subhanallah kita ulang-ulang sampai 33 kali. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Demikian juga dengan kalimat Allahu Akbar. Kumandang adzan setiap hari menyerukan kalimat Allahu Akbar, minimal terdengar 20 kali dalam sehari, itupun baru dari satu masjid. Bahkan ada seorang anak berusia 2 tahun sudah bisa mengucapkannya, meskipun kadang masih belum jelas. Terutama pada saat hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha, gema kumandang takbir terdengar dimana-mana. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tidak kalah seringnya dengan kalimat Astaghfirullah hal adzim. Anak-anak sudah tahu bahwa kalimat untuk meminta maaf kepada Allah adalah dengan mengucapkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Astaghfirullah hal adzim. Dan kita sering mengajaknya untuk melafadzkan kalimat tersebut sehabis sholat. Termasuk misalnya ketika anak sedikit ‘bandel’ maka mulut kita mengucapkan kalimat itu, sehingga anak pun mendengarnya kembali. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; kalimat toyyibah lain, yang menurutku agak jarang dilafalkan, yaitu Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun. Karena, kalimat tersebut akan diucapkan ketika ada musibah saja. Misalnya meninggalnya seseorang, kecelakaan, atau kejadian sedih lainnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Nah, aku punya pengalaman ketika mengenalkan kalimat ini kepada anak-anakku. Secara tidak terduga, kalimat itu terucap secara berulang-ulang, hampir setiap tiga hari sekali, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dalam waktu kurang lebih satu setengah bulan. Sampai akhirnya anakku hafal melafalkan kalimat &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ceritanya, begini. Sore itu, kak Dwi panggilannya, membelikan anak-anakku satu perangkat akuarium, lengkap dengan beberapa ekor ikan hias berwarna-warni dari berbagai jenis, beserta kelengkapannya berupa jaring dan alat gelembung udaranya. Terima kasih ya buat kak Dwi atas hadiah itu, semoga menjadi pahala yang mengalir, ya kak. Amin. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sampai di rumah, ternyata akuarium beserta ikan-ikannya yang cantik itu menjadi hadiah &lt;i&gt;surprise&lt;/i&gt; bagi Faiz dan Arvin, karena memang anak-anakku tidak pernah punya sebelumnya. Akuarium seisinya itu benar-benar menjadi pusat perhatian &lt;i&gt;(center interest) &lt;/i&gt;buat mereka. Begitu menariknya ikan-ikan itu, seakan-akan ikan-ikan itu menjadi teman barunya yang setiap saat dikunjunginya di sela-sela waktu bermainnya. Terkadang ikan-ikan itu diajaknya berbincang-bincang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kamu sedang ‘terbang’, ya ikan,” kata Arvin di depan akuarium, yang mengistilahkan berenang dengan terbang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tidak jarang Faiz dan Arvin saling berebut memberi makan ikan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sambil memandang ikan-ikan itu berenang, dia mengatakan, “Selamat makan, ikan,” kata Arvin menirukan gayaku seperti ketika aku mempersilakan Arvin makan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, buat Faiz, mungkin karena begitu cintanya pada ikan, Faiz rela untuk memindah televisi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang ada di atas meja, untuk digantikan oleh akuarium ikan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Nggak pa pa bun, mejanya untuk akuarium saja. Televisinya nggak usah dinyalakan, biar aku rajin belajar,” kata Faiz layaknya orang dewasa yang menyadari terganggu oleh acara televisi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Memang sebelumnya aku sempat resah oleh tayangan televisi yang ditontonnya setiap hari. Bagaimana tidak, dari bangun pagi jam setengah enam sampai jam delapan malam menjelang mereka tidur, film anak-anak dan tayangan lain yang digemarinya ada di televisi, tersaji tanpa henti. Ketika itu, hampir setiap hari Faiz makan pagi sambil menonton televisi. Pulang sekolah, melihat televisi lagi. Ditambah sore hingga malam hari masih juga di depan televisi. Televisi hanya berhenti ketika dia sedang ke masjid atau bermain. Itupun terkadang dia melarangku untuk mematikannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Di &lt;i&gt;mute&lt;/i&gt; aja bunda,” begitu katanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ya Alhamdulillah sekarang televisi itu sudah tidak menjadi bagian utama dalam hidupnya. Sejak itu anakku bermain sewajarnya anak-anak bermain, tidak dikendalikan lagi oleh tayangan televisi yang cukup memikat itu. Ya bermain apa saja. Dari menggambar, bermain layang-layang, &lt;i&gt;puzzle&lt;/i&gt;, bongkar pasang lazy, dan termasuk ‘memelihara’ ikan di akuarium. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ikan-ikan itu diberi nama. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; si mentik, ikan kecil yang perutnya besar, berwarna hitam putih totol-totol, dan memiliki sepasang mata bulat yang agak besar. Gerakannya yang agak lambat dibanding ikan-ikan yang lain, membuatnya tampil imut dan lucu. Faiz memperoleh istilah si mentik itu, menurutku karena dia pernah mendengar istilah bahasa Jawa &lt;i&gt;cilik mentik&lt;/i&gt;, yang artinya kecil sekali. Si mentik inilah yang menjadi ikan favoritnya. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; juga yang diberi nama si merah gesit, ikan warna merah lorek putih yang gerakannya cepat. Kemudian si ekor cantik, ikan mungil yang ekornya indah berwarna-warni. Faiz dan Arvin rajin memberi makan ikan, menguras akuarium bersamaku, dan menjadi pengamat ikan. Banyak hal yang dapat dia pelajari dari ‘memelihara’ ikan. Salah satunya adalah kalimat toyyibah Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Memang mereka rajin memberi makan, tetapi Faiz dan Arvin juga senang menjaring ikan-ikan itu, selayaknya penjual ikan, ya meskipun nanti dikembalikan lagi ke akuarium. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Bunda beli ikan, ya. Aku jualan ikan,” kata Faiz menawarkan ikannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lalu dia mengambil kantong plastik, mengisinya dengan air, dan menjaring 2 ekor ikan untuk diberikan kepadaku. Setelah itu ya dikembalikan lagi ke akuarium. Aku pikir, aduh apa ikannya nggak pusing tuh. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Suatu ketika si mentik terlihat sakit. Tidak banyak bergerak. Bahkan ikan yang lain mulai menggigiti perut, ekor, dan mata si mentik. Di bagian perutnya terlihat bercak merah. Begitu juga dengan matanya yang terlihat bengkak, mungkin terluka akibat gigitan oleh ikan yang lain. Melihat kondisi si mentik yang demikian parah, akhirnya dengan kesepakatan Faiz, aku memindahnya ke toples tersendiri, maksudku supaya tidak digigit oleh ikan yang lain lagi. Kami mengamati perkembangannya. Si mentik makin lemah dan tak berdaya. Beberapa jam kemudian, akhirnya si mentik mati juga. Aku melihat Faiz, dia hanya terdiam, tertunduk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Waduh bun, si mentik mati,” kata Faiz berulang kali.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kasihan ya bun,” tambahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Faiz memandangku. Aku melihat matanya berkaca-kaca. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Apa kakak sedih?” tanyaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Faiz hanya mengangguk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Bunda?” segera dia balas bertanya kepadaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Iya, bunda juga sedih,” jawabku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Apa kak Faiz mau menangis?” tanyaku ingin mengungkap isi hatinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Bunda?” dia justru balik bertanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rupanya perasaan kami sama, sedih kehilangan si mentik yang lucu. Aku turut bersedih, karena selama ini si mentik telah membuat anak-anakku ceria. Pada waktu itu aku sendiri merasa seperti baru saja menunggui ikan yang sedang menghadapi sakharatul maut. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tetapi momen matinya si mentik ini menggugah pikiranku. Aku memanfaatkan peristiwa tersebut &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;untuk mengenalkan kepada anak-anakku kalimat Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kak, kalau kita sedang ditimpa musibah, Allah mengajarkan kepada kita untuk mengucapkan kalimat Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun,” kataku mengawali.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Termasuk ketika si mentik mati. Kita juga &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengucapkan Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun,” kataku memperjelas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Maksudnya, segala sesuatu itu milik Allah, dan akan kembali kepada Allah. Jadi sesungguhnya apa yang kita miliki ini sebenarnya milik Allah. Dan kita akan mengembalikannya kepada Allah lagi,” demikian aku menerangkan kepadanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Awalnya kalimat itu memang agak sulit diucapkan karena seperti ada pengulangan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lafal Faiz begini sebelumnya,“Innalillahi Wa Innalillahi Roojiun.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kemudian aku memberitahu yang benar, dengan cara mengikuti ucapanku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ternyata, hari demi hari ikan itu bergantian mati. Setiap ada ikan yang mati, aku selalu mengajak Faiz dan Arvin untuk mengucapkan kalimat Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun. Mungkin, karena seringnya ikan itu mati satu per satu, dan tiap kali ada ikan yang mati selalu mengucapkan kalimat toyyibah itu, maka menyebabkan Faiz &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dapat melafalkan kalimat toyyibah itu secara benar dan hafal dengan sendirinya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sampai akhirnya, kalau ada ikan yang mati lagi, Faiz tinggal lapor saja, “Bunda, tadi ada ikan yang mati. Aku sudah Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun, lho bun,” demikian katanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku menyadari, betapa karunia Allah itu sungguh amat besar. Karena dari sinilah akhirnya aku mendapatkan hikmah dari ikan-ikan yang mati itu. Hikmahnya adalah hanya dengan seperangkat akuarium beserta ikan-ikan di dalamnya, ternyata Allah berkenan mengajarkan kepada anak-anakku tentang kalimat toyyibah, Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah. (Bunda Achiria)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jogja, Rabu 9 Juli 2008, pukul 02.00 WIB.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3418794960202668817-2565862475164720530?l=jogjaparenting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jogjaparenting.blogspot.com/feeds/2565862475164720530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3418794960202668817&amp;postID=2565862475164720530' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3418794960202668817/posts/default/2565862475164720530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3418794960202668817/posts/default/2565862475164720530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jogjaparenting.blogspot.com/2008/07/innalillahi-wa-inna-ilaihi-roojiun.html' title='Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiun'/><author><name>Jogja Islamic Parenting</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12534910791686287909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://bp0.blogger.com/_l7Gsi8kWhZ0/SIoEDTRbsgI/AAAAAAAAAAM/amHSZSiPWHA/S220/F%26A+dekat.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3418794960202668817.post-7974035709042457506</id><published>2008-07-25T20:20:00.000-07:00</published><updated>2008-07-25T20:22:47.101-07:00</updated><title type='text'>Tebak-Tebakan</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sepulang dari kantor, rasa penat dan lelah terasa menghinggapi tubuhku. Namun sehabis mandi dan berganti baju, rasa itu mulai berangsur berkurang. Menjelang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidur setelah sholat Isya dan makan malam, waktu tersebut menjadi waktu yang santai buat aku dan anak-anakku. Meskipun kadang rasa kantuk sudah mulai menghampiri mataku, tapi aku luangkan waktuku untuk bermain bersama mereka. Kami bertiga berbaring. Faiz di sebelah kananku, Arvin di sebelah kiriku, dan aku sendiri ditengah. Aku mulai menawarkan sebuah permainan. Permainan yang ringan, terasa seru, sekaligus bisa melepas lelah, namun tetap sarat dengan materi yang ingin aku sampaikan. Permainan itu adalah tebak-tebakan. Mereka berebut untuk ditanyaain duluan oleh bundanya.   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Aku dulu bunda!” teriak Arvin. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Begitu juga kakaknya, “Aku dulu bunda!”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ya, Arvin dulu, ya,” sahutku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Belum sempat aku memberi pertanyaan, Arvin sudah menyahut lagi, “Binatang bunda!” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ya, aku tahu maksudnya, dia maunya ditanyaain seputar binatang. Tentu saja binatang yang sudah dikenalnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Pertanyaan buat Arvin, binatang apa yang ada di rumah kita, kecil, warnanya hitam, kalau mencari makan saling bekerjasama, dan suka makanan manis?” tanyaku penuh semangat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Semut!” jawab Arvin mantap.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ya betul!” sahutku pula. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lalu kami bertiga tepuk tangan memberi penghargaan untuk Arvin yang sudah benar menjawab pertanyaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sekarang kak Faiz,” kataku kemudian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Apa bunda?” tantangnya menunggu pertanyaanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Binatang apa yang menjadi pembunuh nomor satu, hidupnya di air, dan …?”, belum selesai aku memberi pertanyaan, dia sudah menjawab.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ikan hiu putih!” jawabnya sambil berteriak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ya betul!” jawabku sambil memberikan &lt;i&gt;applaus&lt;/i&gt; juga untuk Faiz.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Yah, Faiz bisa menjawab pertanyaan itu karena memang dia suka membaca buku tentang alam dan binatang yang pernah aku belikan di toko buku shopping Jogja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sekarang Arvin bunda!” seru Arvin segera.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ya, pertanyaan untuk Arvin.” sambutku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Benda apa yang terbit dari sebelah timur, tenggelam di sebelah barat, benda itu menyinari bumi setiap hari?” tanyaku sambil memeluk dan menciumi tubuhnya yang berbaring di sebelah kiriku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Emm, matahari!” jawabnya santai dengan mata tertuju ke kakinya karena ia sedang mengangkat kedua kakinya di atas dinding di sebelah kirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ya, benar!” jawabku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sekarang kak Faiz, bun,” kata Arvin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ya, pertanyaan untuk kakak,” sambil aku berpikir pertanyaan apa lagi ya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kak, berapa &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dikalikan dua?” tanyaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dia berpikir sejenak, “Ng, gampang bunda, sepuluh, &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;!” jawabnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tebak-tebakan itu masih berlanjut dengan beberapa pertanyaan. Topik pertanyaan yang aku ajukan bisa bervariasi. Dari pengetahuan tentang alam, binatang, benda, perilaku, sopan santun, hitungan, sampai dengan hafalan surat-surat pendek ataupun doa sehari-hari. Aku menyadari, saat-saat seperti itu memang sangat berharga bagi kami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ayo, sekarang Arvin,” kataku melanjutkan memberi pertanyaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Bagaimana doa mau tidur?” tanyaku sambil tersenyum melihat dia menunggu pertanyaanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Arvin menjawab, “Allaahuma baariklana fiimarozaktana waqina adzaabannar,” jawabnya dengan artikulasi lafalnya yang belum jelas tapi terdengar lucu menggemaskan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kakaknya yang juga ikut menyimak pertanyaanku, mendengar jawaban Arvin yang keliru, melihat ke wajahku sambil membulatkan matanya dan tersenyum, seolah mengatakan, lho &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; jawabannya bukan itu, bunda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku segera merespon, “Vin, itu doa mau makan, sayang, kalau doa mau tidur gimana?” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lantas aku dan Faiz spontan bersama-sama membantu menjawab, “Bismika allaahuma ahya wa bismika amut.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Arvin pun akhirnya ingat juga dan menyahut ikut melafalkannya dengan suara agak berteriak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sekarang aku, bun,” pinta Faiz yang tidak sabar untuk aku tebakin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Baik, pertanyaan untuk kak Faiz, berapa duapuluh ditambah tigapuluh?” tanyaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Gak mau bun, aku capek berhitung,” katanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hehe…dia mulai malas menghitung. Kalau Faiz sudah seperti itu, aku nggak maksain nerusin pertanyaan yang hitungan. Memang pertanyaan berhitung butuh kemauan untuk berpikir sejenak. Dia sedang lebih suka dikasih tebakan lain yang bersifat pengetahuan, baik itu logika, alam, binatang atau benda-benda tertentu. Permainan tebak-tebakan itu tidak akan berakhir sampai mereka bosan atau kami sudah makin mengantuk. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Pertanyaan untuk Arvin, Vin apa yang kita lakukan kalau kita mengantuk?” tanyaku mulai mengarahkan mereka untuk tidur.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Tidur!” jawab Faiz dan Arvin kompak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ya sudah, sekarang tidur ya, dah malam,” kataku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Berdoa yuk, Allahummaghfirli waliwaalidayya warhamhuma kamaa robbaya ni shoghiiro. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bismika allaahuma ahya wa bismika amut,” kami berdoa bersama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu mereka pun ambil posisi tidur masing-masing dengan bantalnya ataupun gulingnya. Tidak lupa mereka meletakkan mainannya di atas kepalanya untuk segera aku singkirkan ke meja. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku membalik tubuhku ke sebelah kanan, lalu mencium pipi Faiz sambil mengatakan, “Met tidur, sayang. Jadi anak sholeh, ya kak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lalu akupun berganti memeluk dan mencium Arvin di sebelah kiriku yang sudah memejamkan mata, “Met tidur, sayang. Jadi anak sholeh ya, Vin.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Alhamdulillah, aku bersyukur, masih sempat bercanda dengan anak-anakku meski hanya beberapa menit sebelum mereka tidur. Akupun merapatkan selimut dan tidur. (Bunda Achiria)&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Jogja, Ahad 6 Juli 2008, pukul 03.12 WIB. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3418794960202668817-7974035709042457506?l=jogjaparenting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jogjaparenting.blogspot.com/feeds/7974035709042457506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3418794960202668817&amp;postID=7974035709042457506' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3418794960202668817/posts/default/7974035709042457506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3418794960202668817/posts/default/7974035709042457506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jogjaparenting.blogspot.com/2008/07/tebak-tebakan.html' title='Tebak-Tebakan'/><author><name>Jogja Islamic Parenting</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12534910791686287909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://bp0.blogger.com/_l7Gsi8kWhZ0/SIoEDTRbsgI/AAAAAAAAAAM/amHSZSiPWHA/S220/F%26A+dekat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3418794960202668817.post-1301632700494280086</id><published>2008-07-25T08:45:00.000-07:00</published><updated>2008-07-25T18:18:49.289-07:00</updated><title type='text'>Sujud Syukur</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Aku sujud syukur dulu ya bunda,” kata Faiz. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dia segera berlari menuju sajadah yang sudah terjulur di tempat sholat. Dalam posisi sujud itu, Faiz mengucapkan sesuatu yang lumayan panjang. Seolah dia sedang bercakap dengan Allah selayaknya berbincang dengan orang tuanya. Begitulah anakku kalau diberi sesuatu oleh siapa saja. Entah itu berupa baju, buku, ikan, uang, makanan, atau apapun juga. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pernah suatu ketika aku akan membelikan krayon untuk sarana belajar mewarnainya. Dia memang tidak minta, karena merasa krayon warnanya masih ada, meskipun jumlahnya sudah tidak selengkap ketika baru. Lagian krayon itu kondisinya sudah pendek-pendek semua. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang panjangnya cuma sekuku ibu jari.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Itupun masih dipelihara. Sementara aku tahu kalau Faiz itu memang hobi mewarnai. Jadi wajarlah kalau krayonnya cepat habis. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Waktu itu, sepulang dari kantor, sengaja aku langsung menuju ke toko buku. Aku mencari krayon yang belum dimiliki Faiz sebelumnya. Aku memilih yang ukurannya lebih besar, karena jumlahnya lebih banyak, dengan tambahan warna yang makin beragam. Setelah itu aku melihat krayon yang lain, untuk Arvin, anakku yang kedua, dengan ukuran yang lebih kecil, karena jumlahnya sedikit. Aku memperhatikan sekali lagi krayon-krayon pilihanku itu. Yang pertama, satu set krayon ukuran besar, dan yang kedua satu set krayon ukuran kecil. Aku mantap. Lalu aku menanyakan harga dua set krayon itu kepada penjaga toko. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Mbak, dua krayon ini berapa?” tanyaku kepada penjaga toko.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kalau dua, jadinya enampuluh &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; ribu tujuh ratus,” kata mbaknya setelah menghitung semuanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ah, oke, cukuplah uangku, kataku dalam hati. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ya mbak, beli dua-duanya, ya,” kataku memutuskan untuk membeli krayon itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penjaga toko itupun mencatat barang yang aku beli.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ini bu, notanya,” kata penjaga toko itu sambil menyerahkan nota pembelianku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“O iya, mbak, terima kasih,” jawabku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku bergegas menuju kassa, membayarnya, dan kemudian mengambil krayon itu di tempat pengambilan barang. Setelah itu aku pun pulang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sampai di rumah, seperti biasa aku disambut oleh teriakan anak-anakku, “Bunda datang!, bunda datang!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Faiz dan Arvin berlari untuk berebut memelukku. Aku duduk bersimpuh agar Arvin, anakku yang masih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2,5 tahun itu tidak hanya dapat meraih pinggangku, tapi bisa juga sampai memeluk dadaku juga seperti Faiz. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku pun segera berkata, “Bunda bawa sesuatu untuk kalian berdua!” kataku penuh semangat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Asyik, asyik!” sorak mereka berdua. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Apa bunda?, apa bunda?” tanya mereka gak sabar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sebentar,” kataku sambil membuka tas pembungkus itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ini dia! Krayon untuk kakak dan Arvin!” kataku sambil menyerahkan krayon yang ukuran besar untuk Faiz, dan krayon ukuran kecil untuk Arvin. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Hore…!” sambutnya sambil meloncat-loncat memegang krayon masing-masing.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akupun segera mengajak mereka berucap,“Alhamdu…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;”Lillaah,” sahut mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba Faiz berkata, “Vin, sujud syukur dulu yuk,” ajak Faiz kepada Arvin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mereka pun berlari ke tempat sholat yang biasa mereka gunakan untuk sujud syukur juga. Aku segera mengikuti mereka berdua, bersungkur sujud di sajadah yang ada. Aku sengaja merapatkan telingaku mendekat ke Faiz. Terus terang saja, aku ingin mendengar apa yang diucapkan Faiz ketika dia sujud syukur seperti itu. Aku memang mengajarkan kepada anak-anakku untuk selalu berterimakasih kepada Allah dengan cara sujud syukur. Tetapi aku tidak mendikti Faiz harus mengucapkan kalimat begini begitu. Intinya aku hanya menanamkan bahwa kita telah diberi rizki oleh Allah, dan kita harus berterima kasih kepada Allah atas pemberianNya itu. Ya, itu saja. Masalah kalimatnya, aku serahkan ke anak-anakku, karena aku menganggap kata-kata mereka lebih murni dan apa adanya. Toh, Allah itu Maha Mengerti, pikirku. Atau bahkan Allah justru akan tersenyum mendengar ucapan anak-anakku yang polos itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam posisi bersujud pula, lirih aku mendengar ucapan Faiz yang lancar tanpa berjeda itu,”Ya Allah, terima kasih sudah memberi rizki untuk bundaku. Bundaku jadi bisa membelikan aku krayon baru. Soalnya krayonku sudah putus-putus. Sekarang aku sudah punya krayon baru. Semogalah bundaku punya uang lagi untuk mbeli-mbeliin aku lagi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ya Allah! seruku dalam hati. Seketika itu juga hatiku menangis, dan tanpa aku sadari, air mataku pun menetes membasahi pipi. Tidak berlebihan rasanya kalau aku merasa terlambat. Terlambat untuk merespon kebutuhan anakku yang hanya berupa krayon. Betapa pentingnya krayon itu untuknya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Memang, krayon itu selalu dibawa setiap kali Faiz pergi ke sekolah, karena digunakan untuk mewarnai gambar-gambar yang diberikan oleh bu guru di sekolah taman kanak-kanaknya. Jadi wajar saja kalau krayon baru itu sangat berharga untuknya. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, tanpa sepengetahuan mereka berdua, akupun tersungkur kembali untuk melakukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sujud syukur, berterima kasih kepada Allah karena aku telah dianugerahi dua orang anak yang dapat membukakan pintu hatiku untuk selalu mensyukuri nikmatMu. (Bunda Achiria) &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Garamond;"&gt;Jogja, Ahad, 6 Juli 2008, pukul 15.15 WIB.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3418794960202668817-1301632700494280086?l=jogjaparenting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jogjaparenting.blogspot.com/feeds/1301632700494280086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3418794960202668817&amp;postID=1301632700494280086' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3418794960202668817/posts/default/1301632700494280086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3418794960202668817/posts/default/1301632700494280086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jogjaparenting.blogspot.com/2008/07/sujud-syukur.html' title='Sujud Syukur'/><author><name>Jogja Islamic Parenting</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12534910791686287909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://bp0.blogger.com/_l7Gsi8kWhZ0/SIoEDTRbsgI/AAAAAAAAAAM/amHSZSiPWHA/S220/F%26A+dekat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
